POKJA KONSEVASI AIR

Air adalah Kehidupan: Langkah Nyata Pokja Konservasi Air Menuju Sekolah Bebas Banjir dan Bebas Penyakit

Air adalah sumber kehidupan, namun jika tidak dikelola dengan bijak, air bisa berubah menjadi tantangan besar bagi lingkungan. Di musim hujan, luapan air sering kali memicu genangan atau banjir. Sebaliknya, di musim kemarau, tanah menjadi kering gersang. Belum lagi ancaman genangan air kotor yang menjadi sarang nyamuk pembawa penyakit seperti Demam Berdarah Dengue (DBD).

Bergerak sebagai benteng pertahanan lingkungan sekolah, Pokja (Kelompok Kerja) Konservasi Air Adiwiyata hadir membawa solusi nyata. Mengangkat tema “Jaga Saluran Air: Bebas Banjir dan Bebas Penyakit”, pokja ini mengajak seluruh warga sekolah untuk peduli pada setiap tetes air yang mengalir di lingkungan kita.

Saluran Air Bersih: Kunci Sekolah Sehat dan Aman

Langkah pertama dalam konservasi air bukanlah hal yang rumit, melainkan menjaga apa yang sudah ada. Saluran air atau drainase sekolah sering kali tersumbat oleh sampah plastik, daun kering, dan sedimen tanah. Akibatnya, saat hujan deras tiba, air meluap dan menciptakan banjir lokal di area sekolah.

Lebih dari sekadar banjir, air yang tersumbat dan menggenang berhari-hari adalah “hotel bintang lima” bagi nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak. Oleh karena itu, Pokja Konservasi Air rutin menggalakkan aksi 3M Plus di lingkungan sekolah:

  • Membersihkan saluran air dan selokan dari sampah secara berkala.
  • Menutup tempat penampungan air agar tidak menjadi sarang nyamuk.
  • Memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menampung air hujan.

Dengan saluran air yang lancar, lingkungan sekolah tidak hanya terbebas dari ancaman banjir, tetapi juga menjelma menjadi kawasan yang sehat, bersih, dan bebas penyakit.

Inovasi Biopori: Menabung Air, Menyuburkan Tanah

Selain merawat saluran air, Pokja Konservasi Air juga melakukan aksi preventif dan ramah lingkungan yang sangat efektif, yaitu pembuatan Lubang Biopori (Lubang Resapan Biopori/LRB).

Biopori adalah lubang silindris yang dibuat vertikal ke dalam tanah. Lubang ini memicu terbentuknya pori-pori tanah alami berkat aktivitas fauna tanah seperti cacing dan akar tanaman. Teknologi sederhana ini memiliki manfaat ganda (double impact): mencegah banjir dengan meningkatkan daya serap tanah terhadap air, sekaligus mengubah sampah organik menjadi kompos.

Panduan Praktis Pembuatan Biopori di Sekolah:

Pembuatan biopori adalah kegiatan yang seru dan bisa dipraktikkan bersama-sama saat aksi gotong royong sekolah. Berikut adalah langkah-langkahnya:

TahapanAksi yang Dilakukan
Penentuan LokasiPilih area yang sering dilewati air saat hujan, seperti di sekitar taman, dekat saluran air, atau di bawah talang air.
PengeboranBuat lubang di tanah menggunakan bor biopori dengan diameter sekitar 10 cm dan kedalaman sekitar 80–100 cm.
Pemasangan CasingMasukkan pipa PVC (yang sudah dilubangi kecil-kecil di sekelilingnya) ke dalam lubang agar dinding tanah tidak longsor.
Pengisian SampahIsi lubang biopori dengan sampah organik sekolah, seperti daun-daun kering, sisa buah, atau potongan rumput taman.
PenutupanTutup bagian atas pipa dengan tutup pengaman berlubang agar tidak membahayakan warga sekolah yang melintas.

Tips Hijau: Jangan biarkan lubang biopori kosong! Sampah organik di dalamnya harus terus diisi ulang secara berkala karena akan menyusut setelah diurai oleh cacing tanah menjadi pupuk kompos yang kaya nutrisi untuk tanaman sekolah.

Satu Tindakan, Sejuta Manfaat

Melalui pemeliharaan saluran air yang disiplin dan pembuatan lubang biopori, Pokja Konservasi Air Adiwiyata membuktikan bahwa menjaga bumi bisa dimulai dari halaman sekolah sendiri.

Mari kita dukung gerakan ini. Jangan buang sampah sembarangan ke selokan, rawat biopori di sekitar kita, dan selalu jaga kebersihan lingkungan.Saluran air bersih, sekolah bebas banjir, tubuh bebas penyakit, bumi pun tersenyum kembali!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *